Views

Bogor EduCARE road to Istana Bogor

Memperingati HUT Bogor ke-533 Bogor EduCARE berkesempatan mengunjungi Istana Bogor pada Hari Rabu, 27 Mei 2015

Panitia Penerimaan Angkatan 19

Tes Gelombang 1 pada tanggal 23 Mei 2015

Alun-alun Suryakencana

Perjalanan penuh warna ini adalah pendakian ketiga saya setelah sebelumnya dibulan Juli 2013 dan dibulan Desember 2014 saya mendaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango dan kali ini saya bersama rekan seperjuangan dikampus kesayangan mendaki Gunung Gede untuk kedua kalinya.

Air Terjun Pelangi (Cimahi)

Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian sekitar 87 meter, merupakan salah satu air terjun yang tertinggi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya. Air Terjun ini berada di ketinggian 1050 meter dpl dengan suhu di kawasan ini berkisar 18-22 derajat Celsius. Brrrrrrr.. #GreatExperience

2 Generous Family

Tanpa terasa kita semua sudah menginjak fase selanjutnya. Semoga kita semua dapat menjadi insan yang lebi baik lagi dikelas selanjutnya. Aamiin.

Tampilkan postingan dengan label Rasa Jadi kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasa Jadi kata. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

Aku Ingin Jatuh Cinta Kepadamu Setiap Waktu



Sejauh ini kamu saja yang ingin kudekatkan pada hidupku. Tak terpikir untuk menjauh darimu. Kamu akan kubawa menghadapi hari-hari melaju bersama rencana-rencana dan penuhnya impianku. Kamu akan kukenalkan kepada bagian-bagian dari diriku yang tak pernah kukenalkan kepada orang lain. Bahkan perihal yang tak pernah kuberitahu kepada orangtuaku sendiri. Kepadamu akan kuceritakan segalanya. Hanya kamu yang kupercayai untuk kujadikan tempat berbagi. Sebab itu, teguhkanlah hatimu kepadaku. Denganku saja kamu akan meneruskan sisa hidupmu. Aku menginginkanmu memilikiku sepenuh hatimu.

Yakinkan dirimu bahwa tak ada satu orangpun yang bisa mengantimu di hatiku. Percayakan kepada dirimu, kamulah yang terbaik untukku. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi kepada perasaan selain kepadamu. Cukup sudah perjalanan panjang yang melelahkan selama ini. Aku ingin berhenti di kamu. Aku ingin kamu hanya mencariku dalam hal apa pun. Setiap rindu dan kesepian datang akulah orang yang akan menenangkanmu. Juga jika semua hal terjadi kepadaku. Kamulah penenang segala kecemasanku. Kamu yang akan menguatkan saat lemah menyerang tubuhku. Aku yang akan meyakinkan saat letih mengurai ketabahanmu.

Jatuh cintalah kepadaku setiap waktu. Berikan aku percayamu untuk menjaga hatimu. Kuyakinkan kamu akulah seseorang yang selama ini mencarimu. Seseorang yang kamu tunggu menemukanmu. Jangan pergi kemana-mana lagi. Jangan melarikan diri dari kehidupan yang kita pilih. Sebab aku ingin tetap waras mencintaimu. Aku ingin tetap menjadikanmu satu-satunya yang kupuja penuh cinta. Abaikanlah segala goda yang membayangimu dengan banyak hal. Kita adalah usaha untuk tetap bertahan sepanjang usia. Berdoalah kepada yang mahakuasa, atas kuasanya kita adalah selamanya.

Dengan percayaku paling dalam. Aku telah memilihmu. Dan ingin jatuh cinta kepadamu setiap waktu yang kupunya. Ingin menjadikanmu seseorang yang menyatu denganku dalam segala doa dan rencana-recana. Aku ingin menjadikanmu teman paling bahagia. Kekasih hidup yang berteguh pada setia. Kita adalah janji-janji yang akan selalu kita tepati. Mendekatlah lebih dekat lagi, dekap tubuhku hingga aku lupa cara untuk pergi. Peluk aku dalam keheningnan malam. Genggam tanganku dalam gempita ruang. Biarlah waktu mengabadikan kita dalam asin dan asingnya hidup. Dalam manis dan pahitnya segala jalan yang kita hadap. Dalam doa dan puja kepada mahakuasa, kau dan aku sebutlah dengan kita sepenuh usia.

Source : Rasalelaki.blogspot.com

Aku Mungkin Tak Bisa Membawamu Kepada Hal-hal yang Pernah Kau Punya di Masa lalu



Barangkali tidak ada cinta yang benar-benar baru di dunia ini selain cinta pertama. Setiap orang punya kisah masa lalu. Semakin lama kamu pernah menjalani hubungan dengan orang lain, semakin banyak pula kisah yang akan tersimpan di ingatanmu. Aku memahami hal itu dengan utuh. Itulah mengapa aku tidak memaksamu melupakan masa lalumu. Aku tidak pernah menyalahkan bagaimana pun kisahmu dulu. Aku belajar menerima kamu yang sejak denganku menjadi orang yang paling kucintai. Tak peduli sepahit dan sehitam apa pun kamu dengan hari lalumu. Bagiku, saat kamu bersedia mempercayakan hatimu kepadaku, artinya kamu bersedia menjadi orang baru untuk dirimu sendiri. Seseorang yang kumiliki sepenuh hatiku.

Pahamilah, kita tidak akan pernah bisa lepas dari sesuatu. Jikalau kita tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya. Aku hanya ingin kamu menjalani semua ini dengan hal baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tanggal. Jangan bawa apa pun, karena aku juga melakukan hal yang sama. Aku mencintaimu dengan merelakan mati kisah di hari laluku. Aku telah meninggalkannya untuk menjadikan diriku seseorang yang baru untukmu. Meski tak pernah bisa menghabiskan kenangan pada semesta. Setidaknya, aku tidak menghadirkan hal-hal yang mungkin membangkitkan luka di antara kita.

Aku paham. Terkadang memang kita akan didatangi perasaan iba untuk benar-benar melepaskan. Lalu membiarkan hal-hal yang mungkin mengingatkan tetap berada di sekitar kita. Sesuatu yang bisa secara tiba-tiba tanpa sadar mendatangkan luka. Itulah mengapa aku ingin kau dan aku belajar melepaskan semuanya. Tanggalkan apa saja yang mungkin membawa kita pulang ke pada hari-hari lalu itu. Jadilah kisah yang benar-benar hanya ada antara kau dan aku.

Berat memang melalui semua hal baru dengan mengesampingkan masa lalu. Namun, jika kau benar percaya pada apa yang kau cintai hari ini, tak kan ada masalah dengan semua itu. Karena memang, terkadang hal-hal yang mungkin mendatangkan ingatan harus dibuang dan dihabiskan paksa. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang bisa mendatangkan luka. Jika kamu benar yakin yang kamu punya hari ini adalah cinta sebenarnya. Satu hal yang harus kamu pahami; aku mungkin tak bisa membawamu kepada hal-hal yang pernah kau punya di masa lalu. Namun, aku pasti bisa membawakan kisah yang belum pernah kamu punya sebelumnya. Ikutlah denganku, hapuslah semua yang mendatangkan luka. Kita  tempuh tualang panjang dengan cerita baru. Hanya ada kau dan aku.

Source : Rasalelaki.com

Minggu, 24 Mei 2015

SELAMAT TINGGAL



Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk mengasingkan diri.

Aku tahu bahwa perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya, tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa bertemu, jika akhirnya berpisah?

Aku masih mencintaimu. Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

“Its okay to walk out of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore”

Berbahagialah. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku. Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu menyakitkan.

Aku pergi, aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain).

Source :
http://lovepathie.tumblr.com/

SURAT PENGUNDURAN DIRI



Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami,

Maaf kalau harus menyebutkan kata-kata ‘pernah’. Karena memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berformula jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya, ya?

Aku undur diri, atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.

Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk menjauh dari pergerakan luka. Kita akan baik-baik saja. Selamat menemukan yang lain selain aku.

Dari yang langkahnya sudah menjauhi kediamanmu.

Source :
http://lovepathie.tumblr.com/

Kamis, 21 Mei 2015

SAAT SEMUANYA TERASA SANGAT PAHIT (!)



Hari ini menurutku tetaplah menjadi hari yang sangat membosankan. Hampir tiga minggu kaki ini mengnjakan diri ditempat ini, rasanya sudah sangat bosan sekali. Aku mulai tak kerasan berada ditempat ini. Aku mulai ingin pergi dari kenyataan ini.

Semuanya terasa pahit saat tak ada yang mampu menyemangatiku dipuncak kejenuhanku ini. Aku tak ingin membagi keluh-kesahku ini dengan Mama, Aku tak ingin dia mengkhawatirkanku.

Rasanya ingin sekali aku berteriak dengan sangat lantang dan berkata bahwa aku ingin segera keluar dari problematika ini. Problematika yang sekarang membuatku merasa sangat tidak bersemangat bahkan cenderung acuh.

Namun satu hal, aku pun tak mungkin menyerah. Aku tak mungkin membuat Mama kecewa, ku tak sanggup.

Ya Allah, keluarkan aku dari kejenuhan ini Ya Allah. Aku sangat ingin bersemangat seperti dulu. Aamiin.

Selasa, 19 Mei 2015

Kepada Kamu yang Kujaga Sepanjang Doa


Untuk seseorang yang sedang berjuang di sana.  Aku mencintaimu, dan sedang berjuang di sini untuk segera bisa hidup didekatmu. Kumohon jangan takut atas apa pun. Bunuhlah semua kegelisahan yang datang mengacaukan harimu. Kegelisahan yang kadang lebih sering menumbuhkan curiga. Percayai hatimu, kita sedang melakukan hal yang sama. Saling memperjuangkan cinta. Kau harus percaya, sejauh apa pun jarak memisahkan kita, kelak padamu aku ingin mencurahkan segala rasa. Denganmu aku ingin menulis segala cerita perihal hidup dan jatuh cinta.

Aku tahu betul, begitu banyak yang berusaha melemahkanmu di sana. Bahkan seseorang sibuk merayumu,  berupaya merebut hatimu yang kujaga sepenuh hatiku.  Namun, tenanglah. Aku percaya kepadamu. Kau adalah orang yang akan menjaga apa-apa yang telah kita sepakati. Kau pasti mengerti, janji-janji tak akan pernah berarti jika hanya satu orang saja yang menjaganya. Itulah mengapa kita harus tetap menguatkan rasa saling percaya. Jaga apa saja yang telah kita punya. Jangan hiraukan obrolan jalanan yang melemahkan. Peluk rinduku yang datang sebagai cemasmu. Aku juga melakukan hal yang sama. Menjaga hatimu sepenuh jiwa dan sepanjang doaku.

Kepada kamu yang jauh di sana. Ini hari kesekian kita tidak bisa bertemu. Namun perasaan itu masih saja terasa untukmu. Tidak pernah berkurang, malah terus tumbuh semakin subur. Saat kau tak ada kabar, aku hanya ingin mengajarkan diriku bersabar. Menenangkan hati agar tidak terbawa emosi. Meyakinkan diriku berkali-kali, kita sedang memperjuangkan impian yang sama. Kita sedang menjalani proses perjuangannya. Bertahanlah sekuat yang kau bisa, semoga kita bisa melewati tahun-tahun yang berat ini tanpa banyak air mata.

Jarak hanyalah permainan waktu. Rindu akan membawa tubuhku kepadamu. Aku tidak pernah berhenti menemukan jalan agar segera sampai di depan matamu. Menatap matamu dengan dekat. Lalu membisikan kepadamu, “jangan takut, cinta. Waktu sudah membawaku kepadamu.”  Pada hari itu –dan seterusnya- tak akan kibiarkan lagi jarak membuat sedih air mata. Tak akan kubiarkan lagi rindu-rindu menggunung dan membenamkan kita. Bersabarlah di sana. Tetaplah tersenyum dan percaya. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, jika kita sungguh-sungguh dalam menjalaninya.

Source :
http://rasalelaki.blogspot.com/
Twitter : @Dsuperboy

Ya Allah, bolehkah aku berkata "aku lelah"?



''Ada disaat kebahagiaan itu tergantikan dengan kesedihan. Ada disaat kita berada di atas dan dibawah, ya seperti roda.''

Aku mungkin tak sepenuhnya mengerti tentang kebahagiaan, karena nyatanya aku lebih sering diajarkan tentang kesedihan. Mungkin masa-masa sulit seperti ini yang menjadikanku lebih kuat. Aku tak pernah mencoba terlihat lemah, namun benda kecil yang bernama air mata itu selalu menjadikanku terlihat bukan seperti lelaki kuat. Aku benci, aku benci ketika telah berusaha terlihat kuat namun nyatanya aku menangis. Maafakan aku, aku ini seharusnya tidak mudah menangis bukan? Aku ini seorang lelaki yang kodratnya adalah seorang pemimpin. Tapi garis kehidupan membuatku harus seperti ini, menjalani sebuah drama penuh luka dan perjuangan. YaTuhan, aku benci dengan kelemahanku. Aku tak pernah ingin setetespun air mataku ini terjatuh hanya karena ini. Aku lebih suka bila harus memendamnya sendirian, tak perlu bicara dengan orang lain. Namun, tolong jangan dengan air mata. Biar, biar aku menahan kesakitan ini semampuku. Biarkan aku berlagak layaknya lelaki biasa tanpa terlihat ada beban.

Ya Allah, kenapa juga aku terlahir sebagai manusia yang selalu menghiraukan perasaan orang lain? Hingga aku lupa, benar-benar lupa untuk mencari kebahagianku sendiri. Ya Allah maafkan aku jika kali ini aku benar-benar lelah. Maafkan aku jika kali ini aku mengeluh akan takdir-Mu. Ya Allah, tolong peluk aku sebentar, bantu aku menyadari bahwa kebahagiaan itu benar-benar ada untukku. Bantu aku untuk tak terlihat lemah, kuatkan aku Ya Allah. Karena hanya kepada-Mu lah hendaknya aku mengadu, hanya Engkaulah yang mampu mengertiku untuk saat ini.

Ya Allah mungkin aku terlalu peka dengan orang lain hingga akhirnya aku selalu menganggap apa yang aku lakukan harus benar agar tidak ada yang tersakiti olehku. Aku benar-benar tak bisa marah walau sebenarnya aku sakit dengan kata-kata mereka. Ya Allah, biarkan jika memang kelemahanku ini lebih bisa diterima oleh mereka. Tapi, tolong bantulah aku jika ada suatu saat nanti aku berhenti menjadi kuat. Bantulah aku jika nantinya aku merasa lelah. Bantulah aku jika suatu saat aku berada pada titik terlemahku. Bantulah aku untuk tetap menjadi seperti ini, seperti yang mereka lihat saat ini Ya Allah, aku memang bukan hamba terkuatmu. Setiap masalah yang kau beri memang tak pernah bisa aku selesaikan dengan baik. Namun anehnya aku selalu bisa menyelesaikan masalah orang lain. Aku benar-benar tak menghiraukan masalahku sendiri. Aku merasa aku sendirian, disaat semua orang yang aku percayai terlihat pergi meninggalkanku. Aku takut sendirian, aku takut aku tak akan pernah bisa menjalani ini semua. Aku benar-benar takut, Tuhan.

Tuhan, aku hanya ingin terlihat bahagia untuk saat ini. Maafkan aku tuhan, jika aku selalu berkata lelah kepadamu. Namun, ijinkan saat ini saja Ya Allah bolehkah aku berkata ''aku lelah?''.

Senin, 18 Mei 2015

Cukup Jarak Saja yang Memisahkan Kita


Ini hari kesekian aku tidak bisa menemanimu. Tak bisa duduk di depanmu, atau memelukmu menenangkan rindu. Aku hanya bisa mengabarimu melalui telepon, aku baik-baik saja. Juga memastikan kau baik-baik juga di sana. Malam akan tetap begini. Larut lalu berganti menjadi pagi. Melalui dingin-dingin embun yang jatuh bersama perasaan yang terus tumbuh. Sementara kita tetap saja berada pada dua tempat yang berbeda. Jauh terbentang  jaraknya, meski tetap saja dekat hatimu kurasa. Setelah berada pada fase seperti ini, aku seringkali menjadi lebih takut dari seharusnya. Itulah mengapa aku tidak suka kita bertengkar terlalu lama. Aku tidak suka menunda menyelesaikan masalah sampai berhari-hari. Aku selalu ingin, setiap kita di dera masalah semuanya harus selesai hari itu juga.

Kau tahu, cinta, aku sama sekali tidak pernah ingin kau sedih sepersekian detik pun. Meski kejadian yang sudah seringkali membuatmu merasa sedih sebab aku yang salah. Maaf untuk segala yang pernah terjadi. Maaf atas ketakutanku yang berlebihan. Sikap yang kadang membuat kita menjadi saling menyakiti. Semoga semuanya tidak menjadi hal yang memisahkan. Aku hanya ingin denganmu saja. Menjalani hari-hari menyelesaikan banyak perkara. Mengurai rindu-rindu yang mendera menjadi puisi-puisi cinta. Menjadikan segala hal yang kita rencanakan lahir sebagai harapan untuk tetap berdua. Apa pun yang terjadi nanti, tetaplah denganku berdiri. Tetaplah memeluk jiwaku sepenuh hati.

Cukup jarak saja yang memisahkan kita. Hatimu jangan ikut kau jauhkan juga. Dekaplah aku dengan cinta yang tetap dekat. Peluk aku dengan rindu yang menumpuk di dadamu. Jadilah seseorang membuatku tetap percaya bahwa cinta yang baik itu memang ada. Meski aku paham, tak ada yang benar-benar sempurna. Namun setidaknya kau dan aku bisa saling percaya, bahwa masih ada kisah yang tak berakhir luka. Masih ada kasih yang tak terkira curahnya. Ketahuilah, cinta, dengan penuh aku ingin menjadikanmu semesta. Seseorang yang mengutuhi hidupku yang tak lengkap, penyemangat dalam segala harap. Juga penerang dikala gelap.

Masih panjang perjalanan yang harus kita lalui. Akan ada banyak hal besar dan kecil juga yang akan merintanginya. Kita bisa saja pada suatu hari jenuh. Kita bisa saja pada suatu hari berpikir untuk meninggalkan. Namun, pahamilah, cinta, aku ada untuk melengkapi kamu yang pernah terluka. Kamu diciptakan atas aku yang tidak sempurna. Jenuh dan lelah hanyalah hal biasa. Selama kita menjalani semuanya dengan benar-benar cinta, semua akan kembali baik seperti sedia kala. Kau harus pahami aku manusia yang selalu ingin belajar memahamimu. Aku juga sangat paham, kau juga akan terus mengerti aku. Tetaplah percaya; kita terlahir untuk saling jatuh cinta, dari hari ke hari.



Source :
http://rasalelaki.blogspot.com/
Twitter : @Dsuperboy

TITIK JENUH !



"Are you okay?"
"Yeah, I just tired."

Kesepian. Dia adalah teman yang setia, yang dalam keheningannya mampu memelukku dengan hangat. Yang dalam dekapannya aku mampu menjadi diriku sendiri. Dan yang dalam dinginnya malam selalu membuatku hangat dengan hujan air mata.

“Saya telah sampai pada titik jenuh” kalimat itu yang ingin sekali saya ungkapkan pada semua orang saat ini, saat rasa lelah itu mendera dan berusaha merobohkan kekuatan yang masih tersisa.

Kali ini saya hanya sedang merasa jenuh. Merasa mulai lelah dengan segala masalah dan retorika kehidupan yang ada. Dan ada kalanya saya merasa sendirian, merasa terlalu sepi. Merasa sudah tidak bisa tertolong lagi, sebut saja itu fase dimana kita mulai menemukan titik kejenuhan dalam hidup. Hingga akhirnya saya berfikir bahwa semua yang ada di dekat saya mulai menemui perubahan dalam diri mereka masing-masing dan saya masih tertinggal jauh sejak fase pertama metamorfosis kehidupan mereka. Dan kini waktu telah berhasil menjalankan peran antagonisnya.

Tiap manusia memiliki tingkat kelemahan dan kekuatan yang berbeda satu sama lain, itulah salah satu kekuasaan Allah. Ada manusia yang baru diberi cobaan yang menurut yang lain tidak seberapa besar, tapi menurutnya cobaan itu sudah melampaui batas kekuatannya sebagai manusia, atau bahkan sebaliknya.

Lagi-lagi saya hanya bisa pasrah dan berharap agar semuanya cepat berlalu dan kembali seperti biasanya. Tapi kenyataannya, everything has changed. I changed. You changed. Memang, semua orang berhak atas apa yang mereka lakukan. Perubahan adalah soal bagaimana kita bisa menerimanya, karena semuanya tentu berjalan, bumi akan selalu berputar, pohon-pohon kecil lama-kelamaan akan semakin tumbuh tinggi. Dan tentu saja, perubahan itu pasti akan kita temui.

Ya, lagi-lagi masalah tak pernah lepas dari jalan kehidupan itu sendiri. Saya pernah berfikir. Kenapa manusia harus diuji? Kenapa harus ada masalah yang membuat rumit jalannya kehidupan? Kenapa hidup ini tidak dibuat bahagia saja selamanya? Tidak ada tangis, tidak ada sedih, tidak ada protes akan kehidupan, tidak ada orang yang mengeluh, dan yang terpenting tidak ada lagi yang akan menyalahkan Tuhan. Itu akan lebih mengasyikan bukan?Lalu akhirnya saya menyadari bahwa.. Bahagia? Jika semua orang bahagia bagaimana para motivator mencari nafkah? Bagaimana seorang badut penghibur akan mendapat pekerjaan jika semua orang telah bahagia? Dan bagaimana jika ternyata bahagia mampu membuat kita lupa bersyukur? Ternyata Tuhan menciptakan bahagia selalu satu paket dengan kesedihannya. Faktanya hanya saat kita terpuruk saja kita akan lebih dekat dengan Sang Pencipta. 

Lalu saya hanya perlu menegaskan pada diri saya bahwa: Semuanya akan segera baik-baik saja Ri, karena Allah itu Maha Baik.Ini hanya sedikit ujian yang Allah kasih kepadamu, agar kamu bisa lebih dekat denganNya.

Ya, tidak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus, kadang kita harus menemui lubang-lubang jalanan dan tanjakan yang berliku. Kita, hanya perlu mengendarai roda kehidupan ini dengan hati-hati, kalaupun jatuh. Ya harus bangkit lagi!

Titik. Titik jenuh. Itu bahkan hanya sebuah titik! Dalam kehidupan ada juga titik-titik lain yang harus kita temui, untuk itu seharusnya saya tidak stuck di satu titik saja. Saya harus mencari titik bahagia saya sendiri. Namun biarlah, biarlah saya menikmati titik jenuh ini terlebih dahulu, agar saya lebih pandai mengerti. Siapa saja yang ada disaat titik terbawah saya dan yang patut saya perjuangkan jika saya berada pada titik bahagia saya.

Tetapi Tuhan, kali ini biarkan saya sedikit mengeluh. 

Saya hanya sedang terlalu merasa lelah. Lelah jika ternyata usaha lebih yang selalu saya kerahkan tidak pernah sebanding dengan hasilnya. Saya lelah dikecewakan lalu berkata semua baik-baik saja dan mulai menaruh kepercayaan itu lagi tapi akhirnya saya dikecewakan lagi. Saya lelah terlalu sering disederhanakan. I’m tired, I’m just tired of holding on nothing.

Sabtu, 16 Mei 2015

AKU DAN TARI JILID V : "PENUH TANYA"



Malam itu juga, sesampainya dikamar, aku membanting badan ke atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar yang semakin lama semakin rendah rasanya.
Besok!

Aku hanya punya waktu kurang dari 24 jam Sangat sulit dipercaya hal serumit ini harus diselesaikan dengan cepat. Dalam masalah ini, ada 2 permasalahan utama. Pertama, bagaimana dengan Kak Zevan seandainya aku menginginkan untuk mengakhiri episodenya denganku. Apakah dia tak sakit hati? Padahal baru 3 hari yang lalu kita berdua berkomitmen. Kedua, bagaimana jika aku tak menggubris perasaan Tari? Aku takut dia marah, aku takut dia pergi dari kehidupanku karena pada dasarnya aku sangat mencintai dia. Aku mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Dua masalah ini sama-sama penting.

Aku memilih mengurai game ini dari yang kedua. Aku kembali mengambil handphone, lalu dengan otomatis aku langsung masuk ke menu pesan dan bersiap untuk mengetikan sebuah pesan.

"Tari, Selamat Malam. Aku akan memberi jawaban padamu besok ditaman tempat biasa kita bertemu. Tolong jangan menghubungiku dulu." Ketikku pada layar handphone. Lalu dengan lihainya aku kirimkan pesan itu pada Tari.

Aku tak tahu yang mana yang harus aku pilih. Aku bingung. Namun ditengah kebingunganku aku teringat pada Kak Putri. Dia pasti bisa membantuku. Dia kakak perempuanku yang dapat ku andalkan.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Tok.. Tok.. Tok.. Ri, makan malam, Mama Papa udah nungguin tuh dari tadi." Teriak Kak Putri.
"Iya kak." Sahutku dengan nada lelah.

Malam itu setelah makan malam aku bergegas mandi lalu setelah itu aku akan keruang tengah karena biasanya Kak Putri setelah makan malam bersantai diruang tengah sambil membaca majalah. Entah kenapa mbakku yang satu ini suka sekali membaca majalah.
"Malem Kak, majalah baru tuh. Beli dimana Kak?" tanyaku dengan nada merayu.
"Tumben lu nanya-nanya, ada apa? Ada yang lagi lu pengenin dari gua?" Sahutnya dengan muka mengejek.
"Aelah kak, masa gitu aja gak boleh, wajar kali seorang ade nanya ke kakaknya." sahutku dengan muka cengar-cengir.
"Biasanya kan lu ada maunya kalo udah cengar-cengir najis begini." Tangkas dia.
"Tau aja kakak gua, ya kak gini kak... "

Belum selesai perkataanku pada dia, ternyata dia pergi melengos sambil mengangkat telepon. Nampaknya itu dari Bos dikantor tempat Kak Putri bekerja.
Dengan muka kesal aku duduk disofa sambil mengotak-ngatik remote televisi.
Dari belakang terdengar suara Noah yang merengek minta diajarin ngerjain PR sama Mama. Lalu, Mama datang menemuiku diruang tengah. Aku disuruhnya untuk menemani Noah mengerjakan PR. Lalu kuiyakan saja dan Noah pun duduk dikarpet dan meletakan bukunya diatas meja. Dengan muka masih agak kesal akupun duduk dikarpet dan mengajari Noah mengerjakan PR.

Noah adalah adik laki-lakiku, dia berumur 7 tahun dan dia baru kelas 1 SD.

(Sepuluh menit berselang)

"Ri, ada apaan tadi?" tanya Kak Putri.
"Enggak jadi ah kak, besok aja kak, besok Ari mau minta saran aja sebelum Kakak berangkat kerja. Bisa kan kak?" Jawabku dengan nada memohon.
"Iyadeh, udah yak gua masuk kamar." Sahutnya sambil melengos.
"Makasih sebelumnya kak."

Selepas menemani Noah mengerjakan PR. Aku bergegas ke kamar dan aku mencoba untuk bisa tertidur dengan cepat. Ku harap akan ada saran yang matang dari Kak Putri besok. Meskipun sebenarnya aku sudah agak condong ke salah satu keputusan.

"Sudahlah.. Cepatlah terjaga.."

ADA RONA PENUH RINDU DIRINTIK HUJAN BULAN MEI


Entah dari mana perasaan ini berasal. Tak ingin kuduga dan tak pernah kuduga. Aku merasa ada hal yang seharusnya aku rawat, agar tumbuh lalu bersemi pada saat yang tepat nanti.

Kekaguman dan kebanggaan pada dirinya telah berubah. Satu hal yang ku yakini tentang itu adalah karena hakikat dari sebuah perjalanan itu adalah ta'aruf, dan aku mungkin saja telah sampai dititik dimana aku harus menikmati perjalanan ini.

Bagi seorang penulis sepertiku, aku seperti menemukan "Harta Karun" yang dalam hal ini berarti "Dia" sebagai inspirasi tulisan-tulisanku selanjutnya. Lebih dari itu aku telah menemukan sesosok perempuan selain Mama yang mengerti bagaimana arti dari perjuanganku dalam mewujudkan impianku. Bahkan, selama hampir 9 bulan kaki ini menginjakan diri disini, ditempat yang dulu terasa asing, dia tetap ada untukku. Hanya aku saja yang menyimpan dia dibayangan semu. Tapi itu dulu, sekarang semua telah berubah. Aku percaya bahwa mencintai adalah sebuah proses yang menuntut kedewasaan. Bukan hanya dari seorang pria, tapi wanita pun harus melakukan proses itu.

Dulu, semesta telah menjadi saksi betapa aku mengorbankan perasaanku untuk seorang perempuan yang jelas-jelas tidak menghargaiku. Tapi, aku terus saja menanti keajaiban, kalau-kalau sang waktu akan merubah perasaannya. Dan menurutku penantianku dulu adalah sia-sia saja.

Sesungguhnya, itulah alasan utamaku mengapa aku terlalu berhati-hati dalam menentukan pilihan selanjutnya. Aku tak ingin sakit lagi, aku tak ingin menyesal lagi. Aku tak ingin pula masa mudaku dihabiskan hanya untuk seperti itu saja. Aku punya banyak impian, aku masih muda, dan aku memiliki perjalanan yang masih panjang sekali.

Berbeda dengan kali ini, aku merasa telah siap untuk memulai kisah baru dengan orang yang bisa menerima kekuranganku. Aku yakin karena dia adalah sosok yang telah banyak ku dengar dari oranglain berperangai sangat baik. Tapi, perlu diingat. Aku tidak ingin memiliki status pacaran. Aku ingin dia sekedar mengetahui perasaanku saja. Aku tak ingin merusak janjiku pada Mama untuk tak sekalipun berpacaran saat kuliah. Aku tak ingin menodai perasaan Mama.

Cukuplah aku memendam perasaan ini didalam sekotak harapan yang ingin ku wujudkan dimasa depanku kelak atau mengenangnya saja sebagai pertanda bahwa aku pernah begitu ikhlas dalam mencintai. Semoga kau mengerti.

Disore kelima belas bulan ini.

Kamis, 14 Mei 2015

Alasan kenapa orang cadel gak boleh minder!


Hi pemirsa yang budiman, ketemu lagi sama gua Ari. pada kesempatan kali ini lagi-lagi gua posting info tentang "Cadel". Why? Karena gua termasuk salah-satu orang "Cadel". Gua nggak bisa nyebut huruf R L L. Awalnya sih gua agak minder disebut "Cadel", gua juga kadang-kadang marah sama diri gua sendiri. Gua bilang gini  “kok lo udah gede tapi kaga bisa nyebut R, ga malu lo ama anak TK, lo udah gede udah SMA tetep aja gak bisa nyebut tuh huruf”. Temen gua juga sering ngeledek gua kalo lagi ngomong, gua mau marah sama mereka, tapi apa boleh buat, emang nasib gua kali jadi orang CADEL L L... *akakak

Tuhan itu adil, di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Setelah baca novelnya Habibi dan Ainun, dari situ gua tahu kalo Habibi juga *maaf orang cadel. Terus gua mikir, Habibi aja yang udah jadi presiden, pintar, jenius, dll kaga minder jadi orang cadel. Kenapa gua yang orang biasa ini minder? Habibi aja kaga minder? kenapa gua minder. Trus gua juga punya temen orang cadel juga, dia pintaarrrr banget, selalu juara umum, selalu menang olimpiade, jago matematika, dan dia kaga minder kalo temannya ngeledekin dia, salut gua. Dia aja bisa nahan dirinya untuk gak marah, kenapa gua kaga bisa?

Dari dua tokoh yang berjasa tadi.. berjasa? *ceilah Yups.. karena mereka lah yang membuat gua sadar kalo orang cadel seperti gua juga ada kelebihannya sedikit *cieeee...

Lalu langkah selanjutnya gua selalu mengamati orang-orang cadel disekeliling gua dan ternyata orang cadel itu punya banyak kelebihan lho... mau tahu?

Oke Check this Out..

1. Orang cadel itu berkharisma

Sebagai orang cadel harusnya kita bangga. Lihat saja artis-artis Indonesia yang cadel pada cantik dan ganteng semua. Gak percaya, Ari wibowo. Siapa yang gak kenal Ari wibowo kecuali dia gak punya tipi atau hidupnya masih jaman firaun ketombean. Zaky zimah, meskipun ini ga bisa mukanya dibilang ganteng tapi paling gak karirnya yang ganteng, banyak film yang dia bintangi. Meskipun filmnya didominasi film-film setan, gue gak tahu kenapa yang ngebuat film bergendre horor itu selalu ada Zaky zimah, apakah dia mirip setan, entahlah... tanya rumput yang bergoyang. Kalau ceweknya Tiwi T2, liat aja wajahnya udah cantik pinter nyanyi pula. Dinda Hauw, pertama kali gua liat dia di film Surat Kecil Untuk Tuhan, dia terlihat sangat seksi dari cara bicaranya yang cadel. Camkan, ini cuma beberapa lho, masih banyak lagi artis yang cadel dan tetep eksis.

2. Orang cadel itu banyak pahala

Tanpa kita sadari orang cadel itu banyak pahala, setiap kali kita ngomong terus ada orang yang ngejek karena bahasa yang terdengar seperti bahasa planet, pahala orang yang ngejek kita tadi akan pindah dengan sendirinya ke kita. Jadi, kalau ada yang ngejek kita cadel ga usah marah atau minder cukup diam aja, karena di situlah kita akan panen pahala. Yihaa...

3. Orang cadel itu langka

Yang terakhir ini sudah terlihat jelas, liat aja ada berapa banyak orang cadel di Indonesia, ga sebanyak orang yang normal kan? itu tandanya orang cadel itu langka dan harus dilindungi kalau perlu harus didaftarkan ke UNESCO biar gak diklaim tetangga lagi *nahlo. Maka dari itu kita harus bersyukur lebih, kita dikasih Tuhan keistimewaan yang gak ada di dalam diri orang yang normal.

Setelah membaca catatan ini, kita (orang cadel) gak usah malu karena ejekan, toh orang yang ngejek belum tentu dia bisa lebih hebat dari kita, bisas aja dia malah lebih rendah. Gak usah berbuat terlalu jauh buat mengekspresikan diri kita agar menjadi apa yang kita inginkan, lihat saja orang-orang yang istimewa (cacat), mereka bisa membuktikan bahwa keistimewaan itu gak jadi masalah, malah jadi motivasi untuk terus berprestasi. Kita jangan mau kalah dengan mereka, mereka aja bisa masa kita orang (cuma) cadel ga bisa, harusnya kita bisa lebih baik dari mereka. *cieee..

Sekian Wassalam.. :)

Selasa, 12 Mei 2015

Indahnya Masa Itu..


May, 13th 2014
With my Senior High School's Friend.


It's so memorable.


I hope that I can repeat this moment.


Ma, lets promise that someday we want come again on my graduation in BEC's Campus.


So meaningful.



Selasa, 05 Mei 2015

Hakikat Sebuah Proses


            Berterimakasihlah kepada Tuhan jika hari ini kamu masih diproses. Berarti tandanya, Tuhan masih belum selesai membentukmu. Saat kita menghadapi proses, kita sering merasa tidak kuat karena kita menggunakan cara manusia, bukan cara Tuhan. Coba renungkan, ada berapa banyak proses yang dulu kamu rasa terlalu sulit dan mustahil untuk kamu lewati? Sekarang lewat juga kan? Begitupun sekarang, aku akan menghadapi tahap selanjutnya dari lika-liku perjalananku akan kembali diproses oleh Tuhan. Aku harus kembali memperjuangkan impian orang-orang yang telah menaruh harapan besar padaku. Tuhan, bantu aku untuk melalui prosesMu ini. Maha besar Engkau dengan segala kehendakMu.



smile emotikon

Selasa, 16 Desember 2014

SAHABAT DAN WAKTU JILID II : "PERJAMUAN TERAKHIR"



Untukmu wahai sahabat. Wahai sahabat, mari kita buat janji pada hari ini bahwa takkan ada yang memisahkan darah yang telah mengalir dalam tubuh kita berdua. Untuk itu, temanilah diriku dalam perjamuan terakhir pada istana seribu pilar langit atau taman kasihku. Jamuannya adalah madu dalam cangkir yang telah dilapisi oleh darah, keringat dan airmata. Dan wanginya eukaliptus yang dapat memabukkan jiwa tanpa harus bercampur dengan anggur. Dan lepaskanlah kunang-kunang sebagai pengganti lilin, karena kali ini kita tidak membutuhkan kehadiran cahaya yang menerangi namun ia membakar diri. Jika kau anggap perlu maka tebarlah permadani yang terbuat dari anyaman rumput, dan buanglah segala kursi dan meja perjamuan karena kita tidak membutuhkannya. Karena kita akan membebaskan diri kita untuk bersandar tanpa batas pada pundak bumi. 

Baiklah sahabat, rasanya sudah cukup persiapan jamuan terakhir bagi diriku setelah kulengkapi dengan simfoni langit malam. Sahabat, kau telah menemaniku selama ini dan tak ada rangkaian kata-kata yang dapat menyempurnakan ucapan terimakasihku padamu. Kaulah tempatku menyandarkan tulang dan tubuhku ketika ku lelah berjalan dan lemah tak berdaya, kaulah tempatku untuk berbagi kesedihan, kaulah tempatku untuk menitipkan dan menjaga seluruh rahasiaku, kaulah tempatku untuk berkaca atas segala tindakanku, kaulah tempatku untuk menyimpan airmata dan kaulah perisai serta cahaya bagi hidupku. Selama ini kau tak pernah mengkhianatiku, dan tak pernah berlari meninggalkanku. Namun sobat, aku bukanlah pemilik atas raga ini, aku hanya meminjamnya dengan sebuah perjanjian untuk mentaatiNya. Setelah hari ini, aku kan menyempurnakan janjimu padaku sehingga terbebaslah dirimu atas tanggungan diriku. Dan aku pun tak kan pernah mengkhianatimu serta meninggalkanmu, hingga kematian merenggut segala janji manusia.

Aku telah banyak menyusahkanmu dalam hidup kali ini, dan mungkin akan menyusahkanmu kembali pada saat akhir perjamuan. Jika kau berkenan maka temanilah diriku hingga jiwaku berpisah atas ragaku dan kembali kepada Tangan Yang Memilikinya. Jangan biarkan diriku sendiri ketika semuanya berlalu. Satukanlah kedua tanganku di atas dadaku dan basuhlah keningku dengan air suci yang mengalir dari kedua mataku, tapi jangan pernah kau campur dengan air matamu. Baiklah sebelum semuanya berlalu, kita minum bersama dari cangkir yang sama, madu yang sama dan kita dengarkan simfoni langit malam. Sungguh kau tak pernah mengambil hak ku, dan ku tak pernah mengambil hak mu. Jika kau berkenan akan ku berikan seluruh sisa hak ku kepada mu saat ini.

Sahabat, nampaknya mata ini kian memberat dan nafas ini kian saja mencekik leherku. Baiklah sahabat, mungkin semuanya akan mulai berlalu.  Dengarlah sahabatku, jika setelah ini kekasih yang tak pernah ku miliki datang mencariku, maka katakanlah kepadanya bahwa aku telah melakukan yang terbaik atas hal-hal yang ku bisa lakukan. Katakan kepadanya cinta lebih terasa bermakna ketika nampak kemustahilan untuk menggapainya, cinta tidak membuatku lemah namun membuatku bertahan hingga detik terakhir. Walaupun apa yang ku rasakan lebih banyak rasa sakit atasnya. Katakan padanya bahwa kepingan hati yang telah dia hancurkan dahulu telah ku rangkai kembali menjadi istana tanpa tahta yang akan selalu menunggu kehadirannya. Katakan kepadanya bahwa pilar-pilar yang menyangga mimpi dan harapan yang dahulu ia luluh lantahkan telah ku bangun kembali dan menunggu dirinya untuk menggantungkan kembali mimpi dan harapan tersebut. Sahabat, jika ia menanyakan dimanakah kedamaian setelah ini berlalu, maka katakanlah kepadanya bahwa telah ku tinggalkan untuknya beberapa hari yang lalu namun dirinya tak kunjung datang dan kini ku kembalikan damai kepada Pemiliknya. Jika ia menanyakan tentang cintaku padanya, maka katakanlah bahwa ku membiarkannya pada mataku dan bagian besar pada hatiku yang tak lagi bernyawa. Jika ia menanyakan tentang kebahagiaan, maka katakan kepadanya bahwa kebahagiaan tersebut telah ia rampas dahulu ketika dia mulai bermain api dan tidak ada lagi yang tersisa kini. Dan jika ia menanyakan tentang segala janji yang pernah ku ucapkan, maka katakanlah kepadanya bahwa janji adalah seperti duri yang menusuk pada dagingku, aku akan berusaha memenuhinya walaupun terlambat dan jika sampai akhir hidupku masih ada janji yang tertinggal maka bantulah aku untuk memenuhinya terkecuali tentang kehidupanku yang ku tak punya kuasa atasnya. 

Wahai sahabat, ambilkanlah air suci yang bergelinang di kedua mataku dan basuhlah keningku dengannya. Ah mungkin akan lebih baik jika diriku menuliskan pesan bagi kekasihku. Sahabat ambilkanlah kertas dan pena agar ku dapat menuliskan pesan untuk kekasih ku yang mungkin akan datang.

Wahai sang waktu berikanlah aku detik-detik untuk menuliskan apa-apa yang telah lama ku simpan dalam hatiku.  Wahai jiwa yang lama telah ku tunggu, dalam hidupku aku telah mencintai sedikit jiwa, dan tak sadar telah kugantungkan segala impian dan harapan. Dan tak sedikitpun aku menyesalinya, bagiku cinta adalah pelita dan perisai hidup. Tuhanku telah menciptakannya di dalam hatiku dan aku tidak ingin berpaling atasnya. Kau adalah segalanya bagiku, kau adalah nafas bagi tubuhku, kau adalah cahaya bagi hatiku, kau adalah sumber imajinasi yang bersemayam di dalam benakku. Senyummu adalah tetesan embun yang membasahi kedua bibirku dan menjagaku dari dahaga, suaramu adalah doa bagi jiwaku yang terus saja gelisah, belaianmu adalah kelembutan bagi hatiku yang mengeras batu dan dekapanmu adalah kehangatan bagi hidupku yang sunyi, dingin dan sepi.

Pada saat kau membaca pesan ini maka aku telah memenuhi janjiku untuk menunggumu sampai kematian merenggut janjiku atasmu. Jika kau masih menanyakan cinta maka aku tak dapat mengucapkan selain telah ku habiskan seluruh ruang dalam hatiku untuk mu.  Cinta telah mempertemukan dan menyatukan kami, dan juga cinta yang telah memisahkan kami. Jika cinta tak membawa kau kembali untukku di kehidupan ini, maka cinta kan menyatukan kau dan aku di kehidupan yang akan datang.  Belahan jiwa yang terpisah.

Sahabat, sampaikanlah pesan tertulis ini juga kepadanya jika ia datang. Wahai sahabat, rasanya aku tak dapat lagi menahan segalanya, lepaskanlah dan iringi kepergianku. Temanilah jasadku hingga ku sama sekali tidak bergerak, kaku. Biarkanlah kepergianku dalam damai dan jangan biarkan tetes airmatamu memberatkan kepergianku. Setelah semuanya berlalu, tempatkanlah aku di atas bukit sehingga aku dapat melihat dan menunggu kedatangan kekasihku dalam tidur abadiku.

Terimakasih wahai penjaga rahasiaku, pengiring hidupku, aku tak dapat mendampingimu lagi dan aku akan menunggumu di kehidupan yang akan datang, jika Tuhanku mengizinkannya. Terimakasih sahabatku.

Terima kasih.

Senin, 01 Desember 2014

SAHABAT DAN WAKTU JILID I : "METAMORFUTURE"



Suasana hatiku sebenarnya tak begitu nyaman saat menuliskan ini di diary usangku. Mungkin ini semacam perasaan sedih, mungkin juga rasa sakit. Entah, bahkan aku tak bisa membedakannya. Ingin ku terka kalau-kalau itu hanya sedikit kekesalan atau bisa jadi malah rasa bersalah? Aku pun sama sekali tak bisa merabanya, semakin ku menebaknya, semakin aku terkurung dalam sempitnya tanyaku. Hmm, lantas perasaan seperti apakah ini? Pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi peran antagonis? Mungkin perasaan yang dimilikinyalah yang kini kurasakan. "Menahan luka demi ego!"

Apa kabarmu perempuan yang kurindukan? Kuharap selalu baik, tentu dan harus seperti itu. Ingin sekali kukatakan ini "Maaf, untuk tak bisaku menjadi sahabat yang memahamimu". Benar kusadari genggaman tangan kita sudah sedikit merenggang. Aku pun tahu ada kegugupan dan kekakuan tiap kali kita saling sapa. Aku tahu kau tidak menginginkan itu, karena aku juga sama tak inginkannya. Tapi sebuah fakta, tentang tatap mata yang akan meleburkan kekakuan tak lagi berlaku untuk kita, hanya karena sebuah alasan - Jarak.

Dan maaf juga untukku yang selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Selama ini aku berpura-pura tegar dihadapan semua orang, seolah-olah tak ada yang terjadi, kalaupun ada aku bisa menerimanya. Maaf aku bohong untuk itu. Sebenarnya, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja.

Aku kira memang tak pernah ada masalah selain dia (sahabatku) yang bersikeras untuk tetap mencintaimu. Bahkan ketika kau sudah dengan tegas tidak akan memilihnya. Itu saja. Apakah kau mengerti? Aku sedih ketika harus berjauhan dengan kau, juga dengan dia (sahabatku) tapi aku hanya bisa mengucap istigfar saja. Itu saja. Apa aku harus mengulang-ngulang ini berkali-kali hingga kau paham?




Aku rasa ini bukan salahmu, ini juga bukan salah dia, tapi aku sungguh tak mampu menjelaskannya. Aku takut kehilangan sesosok sahabat. Itu saja. Maka untuk semua kesalahpahaman yang terjadi, bagiku bukan apa-apa. Masalah ini belum bisa menandingi bumbu-bumbu kisah persahabatan kita bukan?

Maaf sungguh ku maaf, aku tak bisa berbicara serius lebih seperti mau mu. Banyak sekali yang terfikir dalam benakku. Namun, sekali lagi bibirku tak cukup pintar untuk menuturkannya.

Harus kau tahu, kini aku telah memiliki seorang pujaan hati yang akan segera membuatmu bergegas keluar dari hatiku. Aku telah berusaha sekeras ini, hanya untuk menghilangkan rasa terkutuk ini. Rasa yang tak pantas ada dalam sebuah persahabatan. Tenanglah, tak lama lagi, aku, kau, dan dia akan seperti dulu lagi. Ini hanyalah proses waktu karena waktulah yang akan merubah kita, ya kita bertiga.

Kita sedang berada dalam lingkar "MetamorFriendship" yang indah. Nikmati saja. Takkan lama lagi.

"Dan mungkin benar, kini saatnya kepompong itu merubah kita menjadi kupu-kupu. Membuat kita masing-masing terbang ke arah yang berbeda untuk mencari destinasi selanjutnya. Kalaupun iya, ku berharap kita akan menjadi indah bagi sekeliling kita." :-)



Astra Yard
Friday, Mei, 23th 2014
09:33 WIB

Sabtu, 29 November 2014

AKU DAN TARI JILID III : "SEBUAH KEPUTUSAN DIRINTIK HUJAN BULAN JULI"



Apa yang akan dikabarkan hujan kali ini, kedatangannya begitu diam-diam, seolah ia mengerti isyarat kerinduanku. Adakah ia tahu perihal kesedihan yang aku tuangkan disetiap rapal doaku? Ataukah hanya singgah sebentar untuk menitipkan pesan bahwa perempuan hujanku tak akan pernah kembali? Apapun itu, hadir hujan dan rinainya di sore ini telah begitu membahagiakanku. Dan akan selalu begitu. Karena bagiku, hujan, dengan atau tanpa ‘dia’, tetaplah satu paket utuh yang akan selalu menjadi kado bagi kenanganku. 

Hujan, teruslah merinai.. Untuk ku titip doa hingga di tujuh langitNya.. Di sini, di balik jendela kamarku. Aku akan selalu menanti, menanti permulaan tetesanmu.. Disini, dalam debar menanti hujan lagi, aku menunggumu 'MENTARI AS-SHAFA' seorang Peri Cantik yang mengisi rumah disanubariku. Kemanakah dirimu setelah kepergiannya, aku tak dapt menemukanmu lagi dalam rinainya hujan diakhir bulan Juli ini.. Ku berharap Tuhan menyampaikan firasat dari semesta hatiku padamu, dimanapun kau berada.

***

Aku yang mengurung diriku dikamar, tak bisa banyak berbicara, hanya hatiku saja yang terus merasa bersalah padanya, tapi apa salahku? Aku tidak tahu, karena terakhir kali aku bertemu dia yakni dikantin sekolah itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah depan sembari mengucapkan "Assalamualaikum" Aku yang sedang merenung dikamarku sontak menjawab "Wa'alaikumsalam" dan langsung bergegas membukakan pintu.

Ternyata Tari datang kerumahku, aku terkejut karena dari informasi sahabatku, hari ini seharusnya dia pergi bersama Ayahnya ke Bandung, karena Pamannya akan Umroh.

"Tari, ayo masuk" ajakku padanya.
"Iya kak"
"Tari, bukankah hari ini seharusnya kamu pergi ke Bandung?"
"Dari mana kakak tahu kalo Tari seharusnya pergi ke Bandung" tanya Tari dengan tatapan curiga.

Bodohnya diriku, aku dan Tari sudah lama sekali tidak berkomunikasi, hampir 14 kali 24 jam kami tak saling mengetahui kabar dari masing-masing kami. Lalu, apa yang aku katakan? Dalam hatiku bertanya, berusaha mencari jawaban terbaik untuknya.

"Kenapa kakak diam saja? Apa ucapanku ada yang salah? Yasudah, aku tak memaksa kakak menjawab pertanyaanku. Biar aku yang menjawab pertanyaan kakak padaku. Iya Ka, tapi Tari memutuskan untuk tidak ikut ke Bandung"
"Mengapa?" tanyaku lagi
"Nanti akan aku ceritakan, sekarang maukah Kakak menemaniku?" ucap Tari dengan nada memohon padaku
"Kemana?" tandasku padanya
"Entahlah, aku pun bingung ingin kemana?"
"Yasudah, sebentar Kakak ganti baju dulu" dalam hati aku mengira Tari kembali teringat sosok almarhum, karena 2 minggu yang lalu dia masih sangat bersedih, semoga saja tidak.

***

Akhirnya sore itu ternyata rintik hujan yang sedari tadi turunpun seketika berhenti, seakan ia tahu bahwa Sang Pangeran dan Sang Putrinya akan benyambangi dunianya.

***

Aku dan Tari tiba disuatu tempat yang rindang, sejuk, kami duduk diantara sela-sela rerumputan hijau. "Ada apa Tari?" tanyaku padanya, tapi selang beberapa menit ia hanya diam termenung. Tanpa nada dan suara, hanya kicauan burung disore hari yang dapat ku dengar kala itu.

Aku dan Tari diam saja selama 3600 detik lamanya. "Tari, dua minggu yang lalu Kakak yang mendiamkanmu, sekarang kamu yang mendiamkan Kakak, apa kamu ingin balas dendam?" Sahutku kepada Tari yang sedari tadi terus saja memandangi buku diarynya.
"Tidak Kak."
"Lalu?"
"Aku hanya sedang memikirkan mengenai ucapan Kakak ketika dikantin dua minggu yang lalu? Inilah alasanku tidak ikut ke Bandung kak, aku sudah tidak tahan lagi dengan selalu mengira-ngira mengenai ucapan kakak padaku" Jawab Tari dengan menggebu-gebu
"Ucapan yang mana?"
"Jangan pura-pura lupa Kak"
"Sebentar Tari Kakak ingat-ingat dulu" pikirku sangat keras, apa yang kuucapkan padanya hingga dia memikirkannya seperti ini. Mungkinkah ucapanku jika aku menerima dia apa adanya? Ah, tidak mungkin, dia tak mungkin memikirkan ucapan konyol itu, itu hanya mimpi yang selalu kuamini.

"Kakak sudah ingat?"
"Sudah, apakah ucapan kakak tentang kakak menerimamu apa adanya?"

"Iya Kak" Tandas Tari dengan nada sedikit malu. Aku terkejut, aku tidak percaya jika ia selama dua minggu ini memikirkan ucapanku itu.
"Lalu?" tanyaku pada Tari
"Mungkin memang lebih baik aku belajar mencintai dari pada terus dicintai Kak."

Aku membalikan muka Tari supaya ia menatap mataku, lalu aku bilang "Tari, buat kakak cukup kebahagiaanmu saja, itu sudah mewakili semua rasa yang tersimpan dilubuk hati kakak." Tari meneteskan air mata, dan seketika aku menghapusnya dengan tanganku.

"Tidak kak, Tari juga menyayangi kakak, kakak selalu ada untuk Tari." Sanggah Tari
"Tapi kakak sudah terlanjur menjalin hubungan dengan orang lain?"
"Siapa kak?" Sontak Tari bertanya.
"Kak Zevan"
"Apa? Bukankah dia lebih tua darimu?"
"Iya, dia lebih tua dariku, aku telah menetapkan untuk belajar mencintainya"
"Mengapa Kakak mau belajar mencintainya?" Tanya Tari lagi padaku dengan tatapan
serius.
"Aku butuh seorang yang bisa membimbingku Tari." Jawabku dengan penuh harap, semoga ia mengerti posisiku.
"Mengapa kau mencari seorang wanita seperti itu?"

Tari membrondongku dengan bermacam-macam pertanyaan yang sesungguhnya menyulitkanku.

"Aku rapuh Tari, cintaku selalu bertepuk sebelah tangan, kau pasti tahu itu, kau jelas tahu bukan tentang kisah 510 hariku? Kau pun tahu kisah 'Cinta Segitigaku' dengan Sahabatku, lalu dulu sekali kau pun sangat mengetahui bahwa aku ditinggal pergi oleh dia yang kini sudah ada disurga sang kuasa. Aku rapuh Tari, tidak sepertimu, kau selalu bahagia dalam menjalani kehidupanmu, sampai akhirnya kekasih hatimu pergi untuk selamanya. Iya kan?"

"Ya kak, Tari tahu itu, sangat tahu, tapi kak mungkin kehadiran Tari dihidup kakak ini adalah jawabannya. Sempatkah kakak berfikiran seperti itu?"
"Jawaban, jawaban apa? Ini bukan ulangan Tari." Candaku mencairkan suasana.

"Kak sedang serius, tolong tatap mataku. Ya aku mungkin jawabannya, mungkin saja Tuhan memang mempertemukan kita sebagai sahabat masa kecil, lalu Tuhan mengizinkan Tari untuk menemani perjalanan pelik kakak. Melewati masa pelik ditinggalkan orang yang kakak cintai untuk selama-lamanya, melewati penantian 510 hari kakak, melewati konflik 'Cinta Segitiga' kakak, dan kakak juga selalu menemani Tari, melewati masa sedih Tari ketika Mama Tari pergi menghadap sang maha pemilik hidup, ketika Tari kehilangan orang yang Tari cinta, ketika Tari galau akan masalah-masalah Tari, kakak selalu ada untuk Tari, mungkin saja kakak dan begitupun Tari akan saling menemani dalam melewati masa-masa selanjutnya. Tapi bukan sebagai sahabat lagi."

Aku tertegun. Aku tidak menyangka Tari bisa mengatakan itu.

"Lalu menjadi apa?"
"Menjadi orang yang selalu ada untuk kakak, bukankah kakak juga selalu ada untuk Tari?"
"Kakak menghargai keinginanmu itu Tari. Tapi kakak tidak mau dijadikan pelampiasanmu atas kehilangan almarhum."
"Iya, Tari mengerti ketakutan kakak, tapi bukankah kakak bilang, kakak bisa menerima Tari apa adanya?"
"Sudahlah Tari, sekarang kita jalani dulu saja hubungan kita, kita bangun komitmen didalamnya, kita harus saling percaya, kita harus saling merindu saat kita berjauhan, titipkanlah rindu itu pada angin, hujan, malam, senja dan bintang jika kau tak bisa menghubungiku. Jika kita memang berjodoh, hubungan batin kita akan terjalin dengan sendirinya."
"Lalu hubungan kakak dengan Kak Zevan?"
"Kakak akan memberi keputusan padamu nanti malam. Bersediakah kau menunggu?"
"Aku bersedia kak jika hanya satu malam."
"Yup, sebaiknya sekarang kau pulang Tari, sudah jam 4, sebentar lagi waktunya berbuka puasa, bukankah rumahmu cukup jauh? Biarkan kakak mengantarkanmu sampai rumah."
"Tapi aku masih ingin disini, menikmati senja seperti kakak biasa menikmatinya."
"Jika aku telah menjadi milikmu, kau bisa menikmati senja bersamaku sesuka hatimu. Ayolah."
"Baiklah kak, Tari akan menurutinya."

Akhirnya aku mengantarkan Tari pulang. Setelah itu disepanjang perjalanan pulangku aku memikirkan tentang keputusanku malam ini, apa yang akan aku lakukan? Aku memang menyayangi Tari, tapi aku hanya ingin menjadikannya 'sahabat' saja, karena aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Tapi aku pun sebenarnya tidak begitu menyayangi Kak Zevan, apalagi mencintainya. Aku hanya mengagumi sosok dia yang dewasa, yang bisa membawaku kearah yang lebih positif lagi. Aku bingung. Entah apa yang akan aku tuliskan padanya nanti malam.



.. Bersambung ..

Kamis, 27 November 2014

AKU DAN TARI JILID II : "MENENTUKAN PILIHAN"



Tiba-tiba suara sms mengbangunkan tidurku. Ternyata itu dari Tari, aku menarik nafas dan mulai membaca kata per kata sms yang dikirimkannya. Dia memintaku untuk menemaninya kesekolah barunya hari ini. Karena kurasa aku tidak sedang sibuk maka ku iyakan saja ajakannya. Hingga suatu ketika dikantin sekolah yang kosong tanpa pedagang Tari bertanya padaku “Apa yang bisa membuat kita yakin bahwa seseorang itu bisa menjadi jodoh kita, Kak?” Tari duduk di depanku, memandangku cukup lama.

Aku sedikit kebingungan menanggapi tanya yang Tari berikan, sudah sejak lama aku juga mencari jawaban tentang hal yang sama. Bagaimana sebaiknya aku menjawabnya, sementara aku sendiri juga belum sekali pun bisa menemukan jawabannya. Arrgh, kenapa harus kamu yang bertanya itu Tari? Kenapa harus kamu?

“Ayolah Kak. Kamu kan sahabatku. Jangan diamkan aku seperti itu. Bukankah selama ini kamu selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang aku berikan. Dan untuk saat ini, aku hanya ingin bertanya tentang itu. Aku benar-benar ingin tahu. Tidak ada yang salah kan dengan itu?”

Ternyata kau hanya menganggapku sahabat Tari. Aku sendiri bingung. Aku sudah mengenalmu jauh lebih lama dari siapa pun. Aku tahu bagaimana kamu ketika kamu masih kecil dulu. Aku sudah menjadi teman, sahabat, bahkan mungkin seperti kakakmu sendiri. Kamu selalu datang padaku dengan setiap cerita suka dan duka yang kamu punya. Bertahun-tahun aku selalu menemanimu, mendengarkan setumpuk kisah cintamu dengan beberapa laki-laki yang sudah pernah kamu panggil sebagai ‘kekasih’, meskipun sejujurnya, sebenarnya aku lebih suka memanggil mereka sebagai kumpulan orang brengsek, yang untuk kesekian kalinya, selalu saja ada dan datang untuk menyakiti dan mengecewakanmu. Aku tidak pernah suka ketika kamu datang padaku, menangis, dan berbicara terbata-bata, mengungkapkan semua rasa sakit dan kekecewaanmu karena mendapat perlakukan yang tidak seharusnya kamu dapatkan.

“Kak Ari.. kok malah diam gitu sih? Gak bisa jawab pertanyaan aku? Atau gak mau? Ayolah Kak, aku sudah disini untuk satu jam dan aku masih saja gak dapat apa-apa.”

Baiklah. Aku akan berusaha menjawab. “Ok. Tari. Bersabarlah sedikit. Aku sedang berusaha mencari jawaban yang tepat. Berikan aku kesempatan untuk berpikir sejenak. Setelah itu, aku janji, aku akan menjawab semuanya.”

“Itu yang aku mau sedari tadi Kak. Jangan buat aku menunggu lama yaa.”

“Tari, kamu mungkin sudah pernah mendengar cerita ini ribuan kali, namun entah kamu masih mengingat cerita ini atau pun tidak. Hampir setiap kali kamu datang ke rumah, dengan segudang cerita patah hati kamu. Aku selalu mengulang cerita ini.”

“Cerita yang mana? Jujur aku gak tahu cerita mana yang kakak maksud. Yang mana kak?”

“Cerita tentang seorang laki-laki yang mencari makna cinta sejati dan jodoh. Kamu masih ingat?”

“Aaaaa. Sebentar-sebentar Kak. Rasanya aku tahu. Sebentar aku ingat-ingat lagi.” Kulihat Tari yang berusaha mengingat-ngingat cerita kecil nan sederhana yang aku seringkali ceritakan padanya. Apakah dia masih mengingatnya? Kuharap dia mengingatnya.

“Dan?” Tak sabar rasanya aku menunggu jawabannya.

“Kak. Rasa-rasanya aku lupa.” Tari tertawa kecil. “Aku bingung. Ya sudah, kak ceritakan lagi ya.”

“Aduh Tari, masa kamu lupa? Ya sudah, kak ceritakan lagi.”

“Makasih ya kak. Aku akan dengan senang hati mendengarkan.”

“Kak harap ini kali terakhir kak cerita ke kamu.”

“Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang pemuda yang dengan sengaja bertanya pada salah satu Gurunya, dia bertanya tentang bagaimanakah cinta sejati dan jodoh itu. Melihat keseriusan pemuda yang bertanya pada Guru itu, lalu sang Guru akhirnya menyuruh pemuda tadi mencari sebuah ranting yang terbaik dari pohon yang ada di sekeliling mereka, dan serta merta si pemuda itu pergi ke pohon yang tidak jauh dari tempat mereka bercengkrama.”

“Pemuda tadi berjalan menyusuri pohon-pohon yang ada di sekelilingnya itu dan dia menemukan banyak ranting pohon yang berserakan di atas tanah. Setelah beberapa langkah, dia berjalan ke arah sebuah ranting yang menurutnya masih bersih berwarna kuning keemasan dan sepertinya masih belum lama terjatuh dari pohon. Ranting pohon tadi ternyata benar-benar menarik perhatiannya.”

“Dia berniat mengambilnya untuk segera diserahkan pada Gurunya. Namun tidak berselang lama, dia segera mengurungkan niatnya. Dalam benaknya dia berpikir, pasti masih ada ranting pohon lain yang lebih bagus dari yang sudah dia temukan, dan dia pun bertekad akan terus berjalan lagi untuk menemukan yang lebih baik. Akhirnya pemuda tadi berjalan lagi dan memang masih banyak ranting pohon yang terjatuh namun dia tidak setertarik seperti pada ranting pertama yang dia temukan di awal perjalanannya menyisiri pohon-pohon di sekelilingnya itu. Dan setelah lama mencari, akhirnya pemuda itu pulang kepada Gurunya tanpa membawa apa-apa.”

“Sang Guru pun bertanya pada pemuda tadi, mana ranting pohon yang kamu suka. Pemuda tadi menjawab, aku sesungguhnya sudah menemukan satu ranting yang menurutku sangat menarik, tapi aku mengurungkan niatku, aku masih berharap untuk menemukan yang lebih baik, tetapi akhirnya aku malah tidak menemukan apa-apa.”

“Sang Guru pun tersenyum dan berkata, itulah cinta sejati. Cinta sejati tidak akan kamu dapatkan jika kamu hanya selalu mencari yang terbaik menurut sudut pandangmu saja, tetapi cinta sejati akan kamu dapatkan, ketika kamu sanggup menjalani sebuah proses.”

Kulihat Tari masih tetap memandangku lekat, terlihat siluet wajahnya yang cantik dan Tari terlihat begitu manis. Andaikan saja kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku akan sangat berbahagia dengan itu.

“Lalu kak? Bagaimana dengan ‘jodoh’ yang aku tanyakan tadi. Cerita kak belum benar-benar menjawab pertanyaanku.” Tari duduk lebih dekat denganku, dia mendekap erat boneka sapi berwarna putih yang aku berikan di ulang tahunnya satu bulan yang lalu. Entah kenapa akhir-akhir ini Tari selalu membawanya kemana pun.

“Sabar. Kita masih setengah cerita Tari. Kamu masih tetap mau mendengar kan?”

“Oke. Maaf-maaf. Ayo lanjutin kak. Aku masih penasaran sama lanjutan ceritanya.”

“Ya. Lalu bagaimanakah jodoh itu, sang Guru kembali menyuruh pemuda tadi untuk mencari sebuah pohon yang bagus untuk ditebang. Dan pemuda tadi pun pergi ke hutan yang terdekat. Dia berjalan menelusuri hutan tersebut. Pada suatu saat dia menemukan sebuah pohon yang sangat bagus menurutnya untuk ditebang. Namun seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya, dia kembali mengurungkan niatnya.”

“Pemuda tadi kembali menyusuri jalan setapak ditengah hutan, berharap menemukan kembali pohon yang lebih baik dan juga lebih bagus. Namun setelah lama dia berjalan dan hampir keluar dari hutan dia belum menemukan lagi pohon yang menurutnya lebih baik dari yang pertama. Namun ada sebuah pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu, yang mungkin tidak lebih baik dari yang pertama. Meskipun begitu, menurutnya masih lebih baik untuk menebangnya saja daripada dia pulang tetapi tidak membawa apa-apa. Dia berpikir bahwa dia tetap membutuhkan sebuah pohon yang harus ditebang untuk dibawanya pulang.”

“Dan akhirnya pemuda tadi pulang menemui sang Guru dengan membawa pulang sebuah pohon yang telah ditebangnya. Sang Guru bertanya keheranan, apakah ini menurutmu pohon yang baik. Pemuda tadi menjawab, sebetulnya pada awalnya ada yg lebih baik tetapi aku lewatkan seperti saat aku mencari ranting pohon tadi. Setelah cukup jauh berjalan aku menemukan pohon ini, yang mungkin dalam kenyataannya tidak jauh lebih baik dari yang pertama aku temukan, tetapi menurutku pohon ini pun masih tetap akan bermanfaat.”

“Sang Guru tersenyum dan berkata itulah jodoh. Bahwa jodoh akan kita dapatkan berdasarkan keputusan kita.”

“Dari cerita tadi Tari, kita akhirnya dapat mengambil satu kesimpulan bahwa cinta sejati merupakan sebuah proses untuk memberikan cinta kita tanpa mengharapkan balasan apapun. Pada hakikatnya jodoh adalah sebuah keputusan atas berbagai pilihan, seperti hidup kita sendiri inipun juga kita jalani atas berbagai pilihan.”

“Kak. Dalam beberapa hal aku bisa setuju dengan apa yang kak ceritakan, tapi kenapa dalam kenyataannya, ketika aku sudah memutuskan seseorang adalah bagian dari kepingan hatiku yang hilang dan berpikir bahwa dia mungkin ‘orang yang tepat’ yang selama ini aku cari. Aku lebih sering mendapatkan kekecewaan.”

“Itu mungkin karena orang-orang yang sudah kamu anggap ‘tepat’ itu, belum benar-benar bisa ‘menerima’ dan ‘memahami’mu seutuhnya Tari. Itu karena mereka tidak pernah merasa puas dan selalu saja menginginkan sesosok lain yang menurut mereka lebih baik. Mereka yang salah Tari. Mereka yang bodoh, karena sudah mengecewakan dan menyakitimu yang sudah benar-benar tulus menyayangi mereka. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentangmu Tari. Tidak sepertiku yang sudah bisa menerimamu sepenuh hatiku.”

“Kak? Bisa kak ulang apa yang kak katakan barusan?” Tari terlihat sangat terkejut mendengarkan pernyataanku barusan.

“Aku bisa menerimamu sepenuh hatiku Tari.”

Minggu, 23 November 2014

AKU DAN TARI JILID I : "SEMUA ADALAH TITIPAN"


Penampilan, kadang menipu. Janji, kadang mengkhianati. Bulan, kadang pergi. Bintang, kadang tak hadir. Sahabat, kadang menghilang. Lalu? Apakah ada yang akan selalu sempurna? Pada kenyataannya, tak ada. Apakah ada yang selamanya menetap dan tak pernah pergi? Pada hakikatnya, tak ada.

“Adakah hal yang mengganggu fikiranmu kak? Sepertinya pikiranmu sedang terbagi-bagi. Ada masalah kak?” Tari memandangku nanar. Tak terlihat ada kehidupan dari kedua matanya. Rasanya seperti kehampaan sedang menelannya dalam pusaran yang sangat kuat. Ia terlihat sangat rapuh, seakan-akan api semangat dalam hidupnya tak lagi membara seperti yang biasanya.

“Tari, adakah hal yang mengganggumu sekarang?” Tari menggangguk, namun ia tetap saja tak kunjung berbicara.

“Maukah kamu bercerita?” Tari akhirnya bercerita banyak mengenai kehilangan yang baru saja ia rasakan. Ada sekian hal yang berubah dari perjalanan hidupnya. Setelah sekian lama ia memberikan kepercayaannya kepada orang yang selama ini bersamanya, pada akhirnya ia merasa itu sia-sia dan tak ada lagi artinya. Tari merasa Tuhan sudah berlaku tidak adil kepadanya. Karena di saat ia merasakan cintanya memuncak, Allah merenggut kehadiran orang yang ia cintai dengan kematian.

Setengah berteriak, Tari menghujaniku dengan pertanyaan. “Mengapa Tuhan tak berikan aku kesempatan untuk lebih lama bersamanya? Mengapa Tuhan membuatku merasakan kehilangan sedalam ini kak?”

Aku lihat kedua matanya yang mulai menghitam karena terlalu banyak menangis. Dan kujawab tanyanya perlahan. “Karena Tuhan menginginkanmu untuk belajar.”

“Apa yang harus aku pelajari dari kehilangan? Yang aku rasa hanyalah rasa sakit, tak lebih.”“Ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dari kehilangan. Salah satunya adalah rasa syukur, karena bagaimana pun Allah tidaklah akan pernah berikan cobaan dan ujian seperti apa pun bentuknya, selain karena itulah salah satu bentuk kecintaannya untuk setiap hambanya.”

“Patutkah aku bersyukur di saat orang yang aku cintai Ia ambil kak?” Aku hanya bisa tersenyum ketika ia berbicara seperti itu. Apakah kehilangan seorang yang ia cintai jauh lebih penting dan berat dibandingkan kehilangan cinta dari Tuhannya? Tak sadarkah ia karena telah menuhankan cintanya sendiri?

“Sudahlah, bukan saatnya kamu menangisi kehilanganmu itu. Tidak akan pernah menjadi baik jika kamu harus terus menangisi orang yang sudah tiada. Aku ingin tunjukkanmu sesuatu jika kamu berkenan.”

Tari tidak langsung memberikanku jawaban. Sepertinya ia sedang menimbang mengenai apa yang seharusnya ia lakukan untuk menjawab ajakanku.

“Apa yang ingin kakak tunjukkan?” Tari mulai menghapus air mata yang sedari tadi mengalir deras dari kedua matanya.

“Ikuti saja kemana kakiku melangkah. Nanti kamu akan tahu sendiri apa yang ingin aku tunjukkan.”

Dan pada akhirnya aku membawa Tari untuk berkeliling di sekitar taman. Aku ajak dia berjalan bersama sembari memintanya memperhatikan segala sesuatu yang ia temui di sepanjang perjalanan kami.

“Kamu tahu Tari? Pada dasarnya, ada dua bentuk kehilangan.”

“Dua bentuk? Bagaimana kakak menjelaskan masing-masingnya? Aku masih belum begitu paham dengan apa yang kakak utarakan sekarang.”

“Iya, pada dasarnya ada dua bentuk kehilangan. Yang pertama, kehilangan yang memang kita rencanakan dan kita siapkan sebelumnya. Sementara yang kedua, kehilangan yang tidak pernah kita rencanakan atau kita siapkan sebelumnya. Dan pada saat ini, kamu tengah mengalami kehilangan yang kedua sepertinya.”

Tari memandangku dengan penuh tanda tanya. Mungkin dia masih belum bisa mengikuti jalan pikiranku.

“Coba berikan penjelasan yang lebih agar aku bisa lebih paham dengan maksudmu.”

“Santai saja, Tari. Kita masih punya banyak waktu bukan? Nanti akan Kakak jelaskan dan tunjukkan apa perbedaan dari keduanya.”

“Baiklah, aku masih akan menunggu.”

Di tengah perjalanan, kami melihat salah satu anak sedang terlihat murung, kami lalu menghampirinya dan sekaligus bertanya mengapa anak itu murung.

“Kenapa kamu murung, de?” tanya Tari

“Aku gak punya cukup uang buat beli mainan itu, Kak.”

“Memangnya berapa yang kamu butuh, sayang?”  Tari mengusap kepala anak itu dengan lembut.

“Cuma sepuluh ribu, Kak.” Jawab anak itu sembari menahan tangis.

“Ya sudah, kakak kasih kamu sepuluh ribu untuk beli mainannya. Tapi kamu harus janji ya, sayang.”

“Janji apa, Kak?”

“Mainannya harus dijaga ya, jangan sampai dibuang atau kamu rusak. Gimana?”

“Iya Kak Tanti, aku janji. Makasih ya Kak.”

Anak itu mengambil uang yang Tari berikan dan kembali berlari mengejar penjual mainan yang sudah berjalan agak jauh dari tempat kami berbicara dengan anak itu. Tari terlihat bahagia dan senang di saat bersamaan. Wajahnya berseri seakan ia sudah melakukan sesuatu yang membuat hatinya merasa sangat nyaman.

“Tari, kamu sadar gak? Pada hakikatnya kamu sudah kehilangan sesuatu baru saja.”

Tari terkejut. “Apa? Aku tidak sadar kalau aku kehilangan sesuatu.” Aku tersenyum melihat reaksinya.

“Ya, kamu sudah kehilangan uangmu bukan? Isi dompetmu jelas sudah berkurang sekarang kan. Anak itu sudah mengambil sedikit dari uangmu.” Giliran Tari sekarang yang tertawa mendengarku menjawab seperti itu.

“Aku tidak merasa kehilangan sedikit pun. Aku malah merasa sangat senang bisa berbagi, meskipun sedikit. Memang uangku berkurang, tapi aku tidak merasakan sedikit pun kehilangan.”

“Kenapa kamu merasa senang? Apakah kamu tidak takut? Bisa saja setelah ini kamu membutuhkan uang itu kan.”

“Uang yang aku punya adalah sebagian dari titipan yang Allah berikan untukku. Bagaimana pun, cepat atau lambat, uang itu akan habis juga. Kalau memang suatu saat nanti aku membutuhkan, dan jika memang itu rizki yang seharusnya menjadi milikku, uang itu akan kembali. Jadi aku tidak khawatir mengenai uang yang kuberikan itu.” Aku kembali tersenyum mendengar jawabannya. Ini akan menjadi lebih mudah untuk Tari pahami.

“Seperti itulah yang aku maksud dengan kehilangan yang pertama Tari, kehilangan yang kamu sudah persiapkan. Memang ada sesuatu yang menghilang darimu, tapi kamu tetap sekali pun tidak merasa kekurangan apa-apa, malah kehilangan yang kamu dapatkan itu justru membuatmu merasa senang dan malah bahagia.”

Tari mulai mengangguk mendengar penjelasanku, agaknya ia sudah mulai memahami maksudku. “Lalu, seperti apa bentuk kehilangan yang kedua?”

“Coba kita ubah kondisinya. Bagaimana kalau uang yang kamu punya sekarang semuanya ludes? Bukan karena kamu berikan atau hadiahkan itu untuk orang lain, seperti yang kamu lakukan kepada anak yang tadi. Tapi karena uang yang kamu punya, semua habis karena dicuri atau dompetmu diambil paksa oleh pencopet atau pencuri yang menghadang kamu? Reaksi kamu seperti apa? Apa kamu akan dengan mudah merelakan kehilangan yang kamu rasakan itu.”

“Astagfirullah, aku tidak sekali pun pernah terpikirkan seperti itu. Bagaimana reaksiku? Jelas aku akan kebingungan dan mungkin juga ketakutan. Uang yang ada di dompetku itu mungkin juga tak lagi bisa aku relakan sepenuhnya. Berbeda dengan kondisi yang sebelumnya ketika aku memberikan uangku karena sengaja, dengan maksud ingin memberi.” Tari hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak pernah terpikirkan dalam bayangannya jika harus berada di posisi itu.

“Kenapa menjadi berbeda? Bukankah kondisinya tetaplah sama, Tari.”

“Sama? Apa yang membuatnya sama?”

“Mungkin memang bentuk kehilangannya berbeda. Kamu pun juga sadari itu. Di awal, kehilangan yang pertama tidaklah sedikit pun menjadikanmu khawatir, tapi di kondisi yang kedua, kamu mulai merasa tak siap dengan kehilangan yang kamu rasakan. Seperti jawabanmu sebelumnya, mungkin kamu akan kebingungan dan juga ketakutan setelahnya, kamu pun juga tidak sepenuhnya bisa rela dengan kehilangan yang seperti itu.” Tari menggangguk, mengiyakan apa yang aku mulai jelaskan kepadanya.

“Tapi satu hal yang tetap sama, Tari.” Sejenak aku menghela nafas sebelum melanjutkan jawabanku. “Dan kamu sepertinya mulai sedikit lupa dengan ucapanmu sendiri. Bukankah uang yang kamu punya adalah sebagian dari titipan yang Allah berikan untukmu. Bagaimana pun, cepat atau lambat, uang itu akan habis juga. Kalau memang suatu saat nanti kamu membutuhkan, dan jika memang itu rizki yang seharusnya menjadi milikmu, uang itu tentu akan kembali. Jadi kamu tidak akan sedikit pun khawatir mengenai uang yang tercuri atau lenyap itu.” Tari terkejut mendengarku mengulang kembali ucapannya sendiri. Terlihat Tari yang malu, mengakui kealfaannya.

“Sesungguhnya, jika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan dariNya, tak akan sedikit pun kita merasa khawatir dengan apa pun yang terjadi dengan titipan kita itu. Jika memang itu adalah rizki dan Allah siapkan itu untuk menjadi milik kita, tentu Allah akan berikan kita jalan untuk tetap bersamanya. Bukankah tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi kehendaknya bukan?” Kedua mata Tari terlihat berkaca-kaca, ia seperti menahan tangis yang ingin menyeruak dari dalam.

“Tapi mengapa menjadi sulit bagiku untuk ikhlas dengan kehilangan yang aku rasakan sekarang?”

“Itu karena kamu menyimpan ‘titipan’-Nya di hatimu, bukan di tanganmu. Maka begitulah akhirnya, kamu akan merasa berat hingga menjadi begitu mendalam kehilangan yang kamu rasakan. Berbeda jika kamu menyimpan segala sesuatu yang berupa hal duniawi di tanganmu, seperti jodoh dan juga rizki, maka jika ia terlepas atau Allah ambil kembali ‘titipan’ yang diamanahkan kepadamu, kamu tidak akan merasa berat, justru bertambah kebahagiaan yang kamu rasakan. Seperti yang terjadi di saat kamu memberi sebagian rizkimu kepada mereka yang membutuhkan, kamu pun sudah merasakan kebahagiaan itu bukan?”

Dan pada akhirnya. Kita akhirnya tahu dan mulai belajar memahami. Penampilan, kadang menipu. Janji, kadang mengkhianati. Bulan, kadang pergi. Bintang, kadang tak hadir. Sahabat, kadang menghilang. Lalu? Apakah ada yang akan selalu sempurna? Pada kenyataannya, tak ada. Apakah ada yang selamanya menetap dan tak pernah pergi? Pada hakikatnya, tak ada. Semua hanyalah titipan.

Kamis, 25 September 2014

MENUJU IMPIAN JILID IV : "KEPUTUSAN HAKIM YANG MAHA AGUNG"



Masih ada satu bulan waktuku untuk menunggu hasil perjuanganku selama ini. Harusnya aku bisa berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah. Namun keledai ini nampaknya jatuh kembali ke lubang yang sama. Waktu yang seharusnya aku gunakan untuk mempersiapkan pertempuran selanjutnya, yaitu SBMPTN, aku sia-siakan dengan bersantai-santai, terlena-lena,main-main dan bahkan aku masih mau menerima tawaran dari sobat lamaku untuk bekerja Part-time. Praktis 1 bulan lamanya aku hanya belajar seadanya, sering bolos belajar dan melakukan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Mungkin aku masih ingin balas dendam karena bulan-bulan yang lalu aku habiskan dengan angka-angka dan aku merasa diatas angin dalam medan SNMPTN.

Dan 13 Mei 2014 yang indah nan menegangkan-pun datang. Ku kenakan kemeja putih berjas, berdasi merah bercorak, dan bercelana hitam dihiasi sepatu pantofel serta hiasan bunga mawar yang sengaja ku sediakan untuk menghadiri momen terpenting dalam hidupku yaitu wisuda. Wisuda itu kunamai "TIGA BELAS MANIS".

Meskipun bukan aku yang akhirnya menjadi seorang Raja, melainkan rekanku yang inisialnya 'WCW'. Tapi hari itu aku tetap senang karena buku tahunan sukses dan rampung tepat pada waktunya, dicetak semua dan pembagiannya lancar, tidak seperti cerita kakak-kakak kelasku terdahulu yang permaslahan Buktanya masih menggantung setelah perpisahan. Di hari itu, aku ingin sekali mendengar kabar baik, dan untuk mendengar kabar sebaik ini aku harus berpakaian rapi, senang dan berhati lapang. Tapi, acara pelulusannya akan diumumkan seminggu lagi, tepat 20 Mei 2013 nanti. Dan Maha Baik Allah SWT yang menghadirkan kabar super baik di hari selasa yang baik itu. Aku LULUS UJIAN masalah NASIONAL yang kontroversial itu, tak hanya itu aku diberi bonus oleh Sang Pemberi Rahmat, seorang perempuan yang mau menerima cintaku. Tapi sayang sekarang dia sudah melupakanku.

Alhamdulillah aku pun mendapat nilai yang relatif baik dan termasuk tinggi di sekolahku. Hufft.. Fiuuh, kerja kerasku terbayarkan. Usaha kuat memang tak akan berkhianat! Dan di 27 Mei 2014 aku kembali mengharap kabar yang super baik. Saiang itu diwarnet aku dan seorang kawanku berinisial RM, dag-dig-dug cemas, aku menunggu kabar yang aku harapkan jauh lebih baik dari kabar lulusnya pecundang ini di Ujian masalah Nasional. Pengumuman lulusnya para pejuang SNMPTN diumumkan tepat pukul 12.00 WIB. Aku hitung mundur waktu menuju momen menegangkan itu layaknya pembakar kembang api menunggu pukul 00.00 untuk meletuskan kembang api tahun baru. Tanganku menegang bergetar diatas keyboard laptop ini, mataku mondar-mandir antara jam tangan yang berdetak ditanganku dan layar lcd komputer ini tak kalah membuatku gugup. Pertanyaanku dalam hati apakah aku tanyakan saja pada guru BK-ku, ah aku harus kuat menerima semua keputusan ini, ini adalah hasil dari usahaku! Teng!

Tepat pukul 12.00, sungguh tak bisa ku gambarkan bagaimana tegangnya diriku menunggu putusan tentang nasibku di ranah SNMPTN 2014 ini, laksana menunggu putusan sidang dari pengadilan. Teman-teman pembaca yang sudah pernah merasakan pasti dapat memahami apa yang aku maksud, dan bagi teman-teman pembaca yang belum pernah merasakan, tunggulah momennya nanti dan rasakan sensasinya, haha. Rasanya inginsegera ku tulis url snmptn di browser yang sedang ku buka ini, tapi aku malah membuka akun facebookku terlebih dahulu yang setelah ku buka diberandanya terpampang nyata bagaimana teman-temanku yang tidak lolos SNMPTN meluapkan kekesalannya dan berbagi melalui media social itu, ada yang bernada kecewa, ada yang bernada kesal, ada yang bernada pasrah, pokonya macam-macam. Waw! Rasanya tak sabar aku untuk menulis status yang tidak maenstream. Seketika aku pun takut untuk membukanya, optimisme ku selama ini berubah menjadi rasa pesimisme yang tinggi. Dan akhirnya aku beranikan diri untuk membuka pengumumannya.

Ternyata aku gagal, dan jujur ini adalah kegagalan yang membuatku terpuruk, bagaimana tidak ternyata raport-ku selama 5 semester yang ku pertahankan seluruh nilai-nilainya + Satu sertifikat Nasional, sati sertifikat Provinsi dan satu sertifikat Kabupaten yang ku dapatkan tak sanggup mengantarkan aku menjebol Perguruan Tinggi Negeri   tapi inilah hidup, aku akan berjuang di kesempatan berikutnya. SBMPTN I'm Coming !



... Bersambung ...